Tren viral “mengguncang tangki bensin” yang beredar di media sosial memicu perdebatan, terutama menjelang rencana penerapan luas bensin E10 di Vietnam mulai 1 Juni 2026. Sejumlah video memperlihatkan kendaraan diguncang dengan klaim dapat mencegah gangguan mesin akibat penggunaan E10.
Kepada surat kabar Tien Phong, Profesor Madya Dr. Do Van Dung, Ketua Asosiasi Otomotif dan Peralatan Tenaga Kota Ho Chi Minh serta mantan Rektor Universitas Teknologi dan Pendidikan Kota Ho Chi Minh, menjelaskan bahwa keluhan terkait biofuel sempat muncul setelah masa uji coba singkat. Keluhan itu datang dari pengguna sepeda motor dan mobil—termasuk model baru dari tahun 2018 hingga 2026—serta berbagai mesin seperti pompa air, mesin pemotong rumput, perahu, dan kano.
Menurutnya, masalah yang dilaporkan mencakup kesulitan menghidupkan mesin, konsumsi bahan bakar yang meningkat, gejala lag, hingga kerusakan pada sistem bahan bakar.
Dr. Dung menilai akar persoalan berkaitan dengan sifat etanol dalam E10. Etanol bersifat sangat higroskopis, yakni mudah menyerap kelembapan dari udara. Dalam kondisi ideal, bensin E10 hanya dapat mentoleransi sekitar 0,5% kandungan air. Jika ambang ini terlewati, bahan bakar dapat terpisah menjadi dua lapisan: lapisan atas berupa bensin beroktan lebih rendah, sementara lapisan bawah adalah campuran etanol dan air yang dapat setara dengan E20 atau E30.
Karena air lebih berat, campuran etanol-air cenderung mengendap di dasar tangki, tepat di area pengambilan bahan bakar. Kondisi ini berisiko membuat mesin “menyedot” campuran yang lebih banyak air dan etanol terlebih dahulu. Dampaknya, kata Dr. Dung, dapat berupa korosi pada komponen logam, karet, dan plastik di sistem bahan bakar; mesin sulit dinyalakan karena air menghambat penguapan bensin; busi menjadi basah; penumpukan asam; kerusakan sensor; konsumsi bahan bakar meningkat; hingga tenaga mesin menurun.
Ia juga menyoroti kondisi Vietnam yang dinilai memperbesar risiko tersebut. Kelembapan udara di Vietnam umumnya berada pada kisaran 70–90% dan terdapat perbedaan suhu siang-malam yang besar, terutama saat musim hujan. Selain itu, banyak tangki penyimpanan bahan bakar di SPBU disebut tidak sepenuhnya kedap udara sehingga etanol dapat menyerap kelembapan lebih cepat. Mesin pertanian dan perikanan yang sering diparkir di luar ruangan dinilai lebih rentan.
Dr. Dung menambahkan, kualitas E10 di Vietnam bisa berbeda dengan negara lain karena tangki SPBU belum dimodifikasi dengan benar untuk penyimpanan E10, sementara kualitas bensin dan kadar etanol disebut belum dikontrol secara ketat.
Dari sisi kendaraan, ia membandingkan teknologi di Eropa dan Amerika Serikat dengan Vietnam. Mobil baru di Eropa dan AS, menurutnya, sering dibekali ECU cerdas yang dapat menyesuaikan konsumsi bahan bakar saat berganti jenis bensin. Sementara itu, banyak sepeda motor dan mobil rakitan di Vietnam menggunakan ECU yang lebih sederhana untuk menekan biaya, sehingga kurang mampu mempelajari dan menyesuaikan parameter saat beralih ke E10. Kendaraan dengan karburator atau sistem injeksi dasar dinilai lebih rentan mengalami gangguan.
Penerapan E10 secara luas disebut merupakan langkah untuk mengurangi emisi CO₂, mendukung produksi pertanian seperti tebu dan singkong, serta mengarah pada target Net Zero. Namun, kekhawatiran publik muncul terkait kompatibilitas kendaraan lama dan risiko gangguan mesin.
Menanggapi tren “mengocok tangki bahan bakar”, Dr. Dung menjelaskan bahwa pada sepeda motor—terutama yang jarang digunakan atau dibiarkan tidak dipakai berhari-hari—lapisan bahan bakar dengan kadar etanol dan air lebih tinggi dapat menumpuk di titik masuk bahan bakar. Saat mesin dinyalakan, campuran ini tersedot lebih dulu sehingga mesin sulit hidup atau busi menjadi basah.
Karena tangki sepeda motor relatif kecil, menggoyangkan atau mendorong sepeda motor beberapa kali secara perlahan dapat membantu bahan bakar tercampur lebih merata sebelum menghidupkan mesin. Namun, ia menekankan bahwa langkah ini hanya solusi sementara dan bukan perbaikan teknis yang sempurna.
Untuk mobil, Dr. Dung menyatakan situasinya berbeda. Tangki bahan bakar mobil tidak dirancang kedap udara karena mesin membutuhkan ventilasi agar dapat menyala. Mengguncang bodi mobil dinilai hampir tidak efektif untuk mencampur bahan bakar. Ia menilai video mobil, truk, atau truk gandeng yang diguncang di media sosial lebih banyak bertujuan menarik penonton dan tidak memiliki dasar teknis yang kuat.
Ia juga mengatakan bahwa pengguna sepeda motor yang dipakai rutin setiap hari pada umumnya tidak perlu terlalu khawatir soal pemisahan bahan bakar karena bensin terus bersirkulasi dan diganti. Namun, untuk kendaraan yang lama disimpan atau jarang digunakan, ia menyarankan agar pemilik tidak membiarkan tangki hampir kosong dalam waktu lama. Sebelum menyalakan mesin pada pagi hari atau setelah beberapa hari tidak digunakan, kendaraan dapat didorong atau digoyangkan perlahan beberapa kali untuk membantu pencampuran lebih merata.
Terkait persiapan konsumen, Dr. Dung menyarankan agar pengguna yang mengalami mesin sulit menyala, kehilangan tenaga, atau mogok setelah lama tidak dipakai memeriksa busi, filter bahan bakar, injektor, atau karburator, dan tidak hanya mengandalkan penambahan aditif.
Untuk mobil yang jarang digunakan, ia menilai langkah terpenting adalah membatasi masuknya uap air ke dalam tangki. Ia menyarankan pemilik mobil menjaga level bahan bakar minimal sekitar tiga perempat penuh guna mengurangi ruang uap air di dalam tangki, sehingga menekan penyerapan air oleh etanol dan membantu mencegah pemisahan.
Jika kendaraan dibiarkan semalaman atau tidak digunakan beberapa hari, ia menyarankan menambahkan bensin baru sebelum dipakai untuk mengencerkan bahan bakar lama yang mungkin sudah menyerap kelembapan dan mengendap di dasar tangki.
Selain itu, ia menyebut aditif anti-pemisahan E10 khusus dapat dipertimbangkan untuk kendaraan yang jarang digunakan. Beberapa produk dapat membantu mendispersikan air dalam bahan bakar dan mengurangi risiko pemisahan. Namun, ia mengingatkan konsumen memilih produk dari sumber terpercaya dan menghindari penggunaan berlebihan aditif yang tidak diatur di pasaran.
Dr. Dung juga menyarankan pemilik mobil mengganti filter bahan bakar secara teratur, memeriksa sistem bahan bakar secara berkala, serta menghindari membiarkan bensin terlalu lama tersimpan di dalam kendaraan.
Di tingkat kebijakan, ia menilai Kementerian Perindustrian dan Perdagangan serta Departemen Manajemen Pasar perlu mengendalikan kualitas bensin E10, berkoordinasi dengan universitas untuk menganalisis dan meneliti solusi, serta merenovasi tangki penyimpanan agar memenuhi persyaratan penyimpanan E10.

