BERITA TERKINI
Ahli Gizi IPB: Jadikan Puasa Ramadan Titik Awal Pola Makan Sehat Berkelanjutan

Ahli Gizi IPB: Jadikan Puasa Ramadan Titik Awal Pola Makan Sehat Berkelanjutan

Pola makan masyarakat setelah menjalani puasa Ramadan kerap berubah dibandingkan kebiasaan sehari-hari. Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Hardinsyah, menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai titik awal untuk membangun pola makan ideal yang dapat dipertahankan, baik dari sisi kesehatan maupun spiritual.

Menurut Hardinsyah, puasa dapat dimaknai sebagai momentum untuk membantu proses “detoksifikasi” tubuh sekaligus menjadi patokan dalam mengatur pola makan yang lebih baik. “Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal secara spiritual dan gizi,” ujarnya.

Dalam keterangan yang diterima Prohealth.id pada Minggu, 15 Maret 2026, Hardinsyah menjelaskan bahwa pengaturan pola makan pascapuasa dapat dilakukan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting. Pola ini dilakukan dengan membatasi asupan dari segi jumlah, jenis, dan waktu makan, yang diharapkan dapat membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.

Ia menilai konsistensi menjadi tantangan utama untuk mempertahankan pola makan sehat setelah Ramadan berakhir. Karena itu, perubahan pola pikir dan tekad yang kuat diperlukan saat kembali ke rutinitas harian. Hardinsyah menyebut, “Biasakan diri dengan intermittent fasting dan mempraktikannya tanpa mengharapkan pahala,” sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan yang berkelanjutan.

Hardinsyah menyarankan transisi menuju pola makan sehat dapat dimulai dengan membiasakan sarapan pagi, yang disebutnya dapat menekan risiko kolesterol. Setelah itu, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari.

Selain pengaturan waktu makan, ia mengingatkan pentingnya mengendalikan konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan. Kebiasaan tersebut, menurutnya, perlu terus dilatih, termasuk saat menjalankan puasa Syawal ketika godaan hidangan beragam kerap meningkat.

Sebagai alternatif, Hardinsyah menyarankan konsumsi buah-buahan segar untuk membantu menekan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula. Buah dinilai dapat memenuhi kebutuhan energi sekaligus menyediakan serat dan vitamin.

Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan jenis dan porsi makanan, termasuk memperbanyak protein dibandingkan karbohidrat. Namun, penyesuaian tetap perlu dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing individu, seperti anak-anak dan ibu hamil.

Hardinsyah menambahkan, ketika berat badan sudah turun ke kisaran normal, kondisi tersebut perlu dipertahankan. Ia mengingatkan agar perubahan ukuran lingkar pinggang menjadi sinyal untuk kembali menyesuaikan pola makan. “Ketika setelah dua minggu kemudian terasa lingkar pinggang bertambah maka pola makan harus kembali disesuaikan,” kata dia.