BERITA TERKINI
30 Tahun Erajaya: Ekspansi dari Gerai Gadget ke Mobil Listrik dan Kuliner, Membaca Arah Konsumen Indonesia

30 Tahun Erajaya: Ekspansi dari Gerai Gadget ke Mobil Listrik dan Kuliner, Membaca Arah Konsumen Indonesia

Nama Erajaya mendadak ramai dibicarakan karena satu kata kunci yang memantik rasa ingin tahu publik: diversifikasi.

Di usia 30 tahun, perusahaan yang lama dikenal lewat ritel perangkat digital, kini berbicara tentang mobil listrik, fesyen, olahraga, hingga kuliner.

Perubahan ini terekam sebagai perbincangan yang meluas, seolah menandai babak baru dalam cara korporasi membaca gaya hidup Indonesia.

Di balik tren itu, ada pertanyaan yang lebih besar.

Apakah ekspansi lintas sektor ini sekadar strategi bisnis, atau cermin dari masyarakat yang kebutuhannya makin berlapis?

-000-

Mengapa isu ini menjadi tren

Ada tiga alasan utama mengapa kabar 30 tahun Erajaya dan ekspansinya cepat menyebar dalam percakapan publik.

Pertama, skala.

Hingga Semester I 2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.500 gerai di Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Angka sebesar itu membuat orang merasa dekat.

Banyak konsumen pernah berinteraksi dengan gerainya, sehingga kabar perubahan arah perusahaan terasa seperti kabar tentang keseharian mereka sendiri.

Kedua, pergeseran identitas.

Erajaya tidak hanya menambah gerai, tetapi menambah makna: dari “tempat beli gadget” menjadi ekosistem gaya hidup yang lebih luas.

Ketiga, momentum.

Ekspansi menuju kendaraan listrik dan F&B bersinggungan dengan topik yang sedang hangat di Indonesia: transisi energi, urban lifestyle, dan pola konsumsi baru.

-000-

Fakta kunci ekspansi: gerai, karyawan, dan ekosistem

Memasuki usia ke-30, Erajaya Group mengoperasikan portofolio lintas sektor.

Di dalamnya ada Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle, serta Erajaya Food & Nourishment.

Hingga Semester I 2026, perusahaan ini ditopang lebih dari 22.000 karyawan.

Ia juga menyebut ekosistem 18,4 juta anggota MyEraspace.

Kemitraan strategisnya tercatat dengan lebih dari 30 merek kelas dunia.

Sepanjang Semester I 2026, Erajaya menambah 173 gerai baru.

Jaringan Erajaya Digital memimpin dengan 1.920 gerai.

Erajaya Active Lifestyle memiliki 256 gerai.

Erajaya Food & Nourishment tercatat 90 gerai.

Di luar Indonesia, jaringan ritel internasional di Singapura dan Malaysia mencakup 240 gerai.

Data ini penting karena menunjukkan ekspansi bukan narasi abstrak.

Ia hadir dalam bentuk titik-titik fisik yang mengubah lanskap ritel, lapangan kerja, dan kebiasaan belanja.

-000-

Non-digital yang makin nyata: kontribusi 12 persen

Diversifikasi Erajaya bukan sekadar menambah kategori produk.

Ia mulai tercermin dalam komposisi penjualan.

Pada Semester I 2026, penjualan segmen non-digital menyumbang sekitar 12% dari total penjualan Group.

Angka itu memberi sinyal bahwa konsumen merespons.

Dalam konteks bisnis ritel, 12% bukan sekadar pelengkap.

Ia bisa menjadi fondasi untuk memperkecil ketergantungan pada satu sektor yang rentan siklus.

Basis pendapatan yang disinggung perusahaan juga mengacu pada FY2025.

Pada tahun buku itu, Erajaya membukukan penjualan sebesar Rp 76 triliun.

Di sini, diversifikasi terbaca sebagai strategi ketahanan.

Bukan hanya mengejar pertumbuhan, tetapi mengelola risiko perubahan selera dan teknologi.

-000-

Dari mobil listrik sampai donat: peta kemitraan global

Ekspansi Erajaya terlihat jelas dari daftar merek yang digandeng.

Di Erajaya Active Lifestyle, perusahaan memperluas lini produk ke sektor kendaraan listrik melalui kemitraan dengan Xpeng.

Ia juga melangkah ke industri fashion bersama Gentlewoman.

Di segmen olahraga, ia memperkuat portofolio melalui Anta, Under Armour, dan Wilson.

Di Erajaya Food & Nourishment, perusahaan menghadirkan jaringan teh CHAGEE.

Ia juga bersiap membawa jenama kuliner internasional I’m donut? dan Oriental Kopi ke Indonesia.

Daftar ini menjelaskan satu hal.

Erajaya membaca gaya hidup sebagai rangkaian kebutuhan yang saling menempel: mobilitas, identitas, kebugaran, dan rekreasi rasa.

-000-

Omnichannel sebagai bahasa baru ritel

Dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/10/2026), President Director & Group CEO Erajaya, Budiarto Halim, menekankan perubahan kebutuhan konsumen.

Ia menyebut Erajaya hari ini sebagai buah diversifikasi terukur untuk menjawab dinamika kebutuhan.

Ia juga menegaskan bahwa tiap vertikal dikembangkan karena relevansinya dalam kehidupan sehari-hari konsumen.

Di bagian lain, perusahaan menekankan integrasi jaringan fisik dan platform digital melalui ekosistem omnichannel Eraspace.

Konsumen diberi fleksibilitas untuk membandingkan, mencoba, dan bertransaksi di banyak titik interaksi.

Omnichannel di sini bukan jargon.

Ia adalah jawaban atas kebiasaan baru: orang mencari informasi di ponsel, menyentuh produk di toko, lalu membayar di kanal yang paling nyaman.

-000-

Membaca Indonesia lewat ekspansi: isu besar di balik ritel

Kisah Erajaya bukan hanya kisah perusahaan yang membesar.

Ia berkaitan dengan isu besar yang penting bagi Indonesia: transformasi konsumsi, ketahanan ekonomi, dan kesiapan menghadapi transisi teknologi.

Pertama, transformasi konsumsi.

Ketika non-digital mulai menyumbang 12%, kita melihat konsumen tidak lagi didefinisikan oleh satu kategori.

Gaya hidup menjadi paket.

Orang membeli perangkat, lalu mencari aktivitas, lalu mencari tempat berkumpul, lalu mencari rasa yang sedang tren.

Kedua, ketahanan ekonomi.

Ekspansi 173 gerai pada Semester I 2026 menandakan ritel fisik belum mati.

Di tengah narasi “semua pindah online”, gerai fisik tetap relevan sebagai ruang pengalaman dan layanan.

Ketiga, kesiapan menghadapi transisi teknologi.

Masuknya kendaraan listrik dalam portofolio Active Lifestyle mengaitkan ritel dengan masa depan mobilitas.

Isu ini sering dibahas sebagai agenda industri dan energi.

Namun di titik ritel, ia menjadi lebih dekat: konsumen bertemu produk, merek, dan layanan purnajual.

-000-

Kerangka konseptual: diversifikasi, jaringan, dan kepercayaan

Agar pembacaan isu ini lebih intelektual, ada tiga konsep yang membantu.

Pertama, diversifikasi sebagai manajemen risiko.

Ketika perusahaan menambah vertikal, ia mengurangi ketergantungan pada satu sumber pertumbuhan.

Data Erajaya tentang kontribusi non-digital memberi petunjuk bahwa strategi ini mulai bekerja.

Kedua, efek jaringan dari ekosistem.

Keberadaan 18,4 juta anggota MyEraspace menunjukkan basis hubungan yang dapat memperkuat lintas-penawaran.

Dalam bahasa sederhana, pelanggan yang sudah percaya di satu kategori lebih mudah diajak mencoba kategori lain.

Ketiga, kepercayaan sebagai modal ritel.

Ritel modern tidak hanya menjual barang.

Ia menjual kepastian: garansi, ketersediaan, layanan, dan pengalaman yang konsisten.

Di sinilah kemitraan dengan lebih dari 30 merek kelas dunia menjadi sinyal reputasi.

Publik melihatnya sebagai indikator bahwa ekspansi dilakukan dengan standar tertentu.

-000-

Riset yang relevan: apa yang bisa disimpulkan tanpa melampaui data

Dalam membaca ekspansi ritel, riset yang umum dipakai adalah studi perilaku konsumen dan perkembangan omnichannel.

Namun, dalam batas data yang tersedia, kita bisa menarik kesimpulan yang hati-hati.

Pertama, integrasi kanal fisik dan digital yang disebut Erajaya menunjukkan pengakuan bahwa perjalanan belanja tidak lagi linear.

Konsumen bergerak bolak-balik antara melihat, mencoba, dan membeli.

Kedua, penambahan 173 gerai pada Semester I 2026 memberi indikasi bahwa perusahaan menilai permintaan offline masih kuat.

Ini sejalan dengan gagasan bahwa pengalaman langsung tetap penting untuk produk tertentu.

Ketiga, pertumbuhan segmen non-digital hingga 12% menunjukkan adanya penerimaan pasar.

Angka itu juga menandakan prosesnya bertahap, bukan perubahan mendadak yang spekulatif.

-000-

Rujukan luar negeri: pola yang menyerupai

Di luar negeri, pola perusahaan ritel yang memperluas portofolio lintas kategori bukan hal baru.

Namun, bentuknya selalu dipengaruhi konteks lokal.

Salah satu referensi yang kerap dibahas adalah peritel yang membangun model omnichannel, memadukan toko fisik dan platform digital untuk menjaga kedekatan dengan pelanggan.

Referensi lain adalah perusahaan yang memperluas bisnis dari satu kategori inti ke kategori gaya hidup.

Tujuannya sama: memperbesar nilai hubungan pelanggan, bukan hanya nilai transaksi tunggal.

Dalam konteks Erajaya, sinyalnya terlihat dari ekosistem anggota dan kemitraan merek global.

Ekspansi ke F&B juga mengingatkan pada strategi banyak grup ritel global.

Mereka menjadikan makanan dan minuman sebagai jangkar kunjungan, karena frekuensinya tinggi dan sifatnya sosial.

-000-

Apa yang perlu dicermati publik: peluang dan kehati-hatian

Ekspansi besar selalu membawa dua sisi: peluang dan kehati-hatian.

Peluangnya terlihat pada penciptaan kerja.

Lebih dari 22.000 karyawan menunjukkan skala tenaga kerja yang terlibat dalam mesin ritel ini.

Peluang lain ada pada transfer standar layanan.

Ketika perusahaan membawa merek global, biasanya ada standar operasional yang ikut terbawa.

Namun kehati-hatian juga wajar.

Ekspansi lintas sektor menuntut konsistensi kualitas, karena kegagalan di satu vertikal bisa memengaruhi persepsi terhadap yang lain.

Selain itu, ritel fisik memerlukan disiplin eksekusi.

Gerai bukan hanya soal membuka pintu, tetapi menjaga pasokan, pelatihan, dan pengalaman pelanggan.

-000-

Rekomendasi: bagaimana isu ini sebaiknya ditanggapi

Pertama, publik sebaiknya menanggapi tren ini dengan literasi konsumen.

Ketika sebuah grup memperluas kategori, konsumen perlu menilai layanan purnajual, transparansi harga, dan kejelasan garansi pada tiap vertikal.

Kedua, pelaku industri dan regulator bisa melihatnya sebagai sinyal perubahan kebutuhan.

Ekspansi ke kendaraan listrik, misalnya, menuntut kesiapan ekosistem layanan dan edukasi produk di tingkat ritel.

Ketiga, perusahaan sendiri perlu menjaga akuntabilitas pengalaman.

Jika omnichannel dijanjikan sebagai kemudahan, maka konsistensi stok, kecepatan layanan, dan penyelesaian keluhan harus menjadi ukuran.

Keempat, masyarakat dapat menempatkan berita ini dalam bingkai yang lebih besar.

Ini bukan sekadar kabar korporasi, melainkan potret bagaimana kelas menengah dan kota-kota Indonesia membentuk pasar baru.

-000-

Penutup: tiga dekade sebagai cermin perubahan

Tiga puluh tahun adalah jarak yang cukup untuk melihat Indonesia berubah.

Dari era ketika ritel perangkat digital menjadi simbol modernitas, menuju masa ketika modernitas berarti pilihan yang lebih luas.

Erajaya menempatkan dirinya di persimpangan itu.

Dengan 2.500 lebih gerai, 18,4 juta anggota, dan ekspansi ke kendaraan listrik serta kuliner, perusahaan ini menegaskan bahwa pasar bergerak ke arah pengalaman.

Pada akhirnya, tren ini menjadi ramai karena ia menyentuh sesuatu yang personal.

Ia menyentuh cara orang Indonesia hidup, berpindah, berolahraga, bekerja, dan berkumpul.

Di tengah perubahan itu, satu kalimat layak diingat sebagai pegangan.

“Perubahan tidak selalu meminta kita berlari lebih cepat, tetapi meminta kita melihat lebih jernih.”